Saat pengajian ahad pagi di Masjid Alhijrah, ada jamaah yang bertanya. Katanya,”Ustadz, saya punya saudara yang kuat ibadah di pagi hari, berjamaah subuh di masjid dan dzikir sampai matahari terbit, akan tetapi di siang harinya dia menjadi preman di pasar. Aktifitas yang sama dia lakukan tiap hari. Ketika ditanya kenapa saat di masjid dia seakan-akan orang yang sholeh, akan tetapi di luar dia seorang preman. Ternyata jawabannya membuat saya heran. Katanya dia melakukan amal ibadah di pagi hari untuk menghapus dosa-dosa dia sebagai preman di siang hari kemarin”.

Saudarku, mungkin kita heran dengan fakta ini. Bisa jadi pola pikir ini telah mengakar di pikiran masyarakat kita sehingga kita tidak heran jika ada koruptor tapi dia juga ahli sedekah dan juga ahli ibadah. Seorang ahli sholat di masjid tapi dia pendagang yang curang dan culas di pasar. Mereka berkeyakinan bahwa amal baiknya akan dapat menghapus amal buruknya. Benarkah demikian?

Catatan ringkas berikut semoga membantu kita memahami permasalahan di atas dengan benar.

Tulisan ini adalah ringkasan penjelasan hadits pertama dari program JODOH (Just One Day One Hadits) oleh Ust. Arif Fathul Ulum, Lc.

Bertaqwa kepada Allah dimanapun kita berada

“اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْت، وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ”

“Takutlah kepada Allah dimanapun kalian berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya. Bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang mulia”. Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi.

Penjelasan

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dalam jamii’nya. Beliau mengatakan hadits ini hadits yang hasan yang juga dinyatakan shohih oleh para ulama yang lain dan dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-albany dalam shahiih al-jamii’ al-shoghir.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اِتَّقِ اللّه حَيْثُمَا كُنْتَ

” Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada “

Taqwa artinya mengambil perlindungan dari adzab Allah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanallahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-laranganNya.

Makna dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah dimanapun engkau berada maka hendaknya engkau bertaqwa kepada Allah. Dilihat oleh manusia atau tidak dilihat oleh manusia maka sesungguhnya Allah selalu melihatmu dimanapun engkau berada sehingga hendaknya engkau bertaqwa kepadaNya.

Kemudian kembali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“dan iringilah kejelekan dengan kebaikan”

yaitu hendaknya setelah melakukan kejelekan segera melakukan kebaikan yang dengan melakukan kebaikan ini semoga kejelekan yang sebelumnya bisa terhapus.

Dan disebutkan diantara kebaikan setelah kejelekan adalah bertaubat kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala karena taubat adalah kebaikan, bahkan tidak ada kebaikan yang bisa menghapus seluruh kejelekan melainkan taubat sebagaimna firman Allah:

……إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُدْهِبْنَ السَّيِّئَاتَ……

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan kejelekan-kejelekan (Hud 11:114)

Faedah hadits

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sangat bersemangat mengarahkan umatnya kepada kebaikan dan juga kepada perkara maslahat, yang baik bagi mereka.

Hadits ini juga menunjukkan wajibnya bertaqwa kepada Allah Azza Wajalla dimanapun berada, dalam kondisi sendiri maupun di tengah orang banyak, dalam kondisi sembunyi maupun terang-terangan.

Diantara faedah lain dari hadits ini adalah ketika seseorang melakukan kebaikan setelah melakukan kejelekan, maka kebaikan akan menghapus kejelekan tersebut dan ada kebaikan yang bisa menghapus kejelekan secara keseluruhan yaitu taubat. Akan tetapi tidak sembarang taubat. Hanya taubah yang memenuhi syarat-syaratnya, diantaranya:

  • Ikhlas kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala
  • Segera meninggalkan kemaksiatan tersebut
  • Berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulang dari perbuatannya.
  • Jika berhubungan dengan hak manusia dia mengembalikan hak tersebut.
  • Taubat dilakukan pada waktu pintu taubat sebelum ditutup, yaitu sebelum nyawa di tenggorokan atau sebelum matahari terbit dari barat.

Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, maka taubatnya akan menghapus seluruh kejelekan yang dilakukan sebelumnya.

Adapun jika kebaikan ini bukan taubat namun amalan kebaikan yang lainnya, maka disebutkan oleh Syekh Muhammad Saleh Utsaimin bahwa ini dengan timbangan yaitu ketika kebaikan ini bisa mengalahkan kejelekan maka keburukan tersebut dapat menghilangkan pengaruh kejelekan tersebut.

Kemudian dalam hadits ini juga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar setiap muslim mempergauli manusia dengan akhlak yang baik dan akhlak mulia yaitu dengan ucapan yang baik dan dengan perbuatan yang baik.

Demikianlah ringkasan penjelasan hadits di atas. Saudaraku, sesungguhnya amal kita yang banyak tidak akan mampu menghapus keburukan yang kita lakukan selama kita melakukannya terus menerus dan tidak ada niatan yang kuat untuk meninggalkan keburukan tersebut. Oleh karena mari bertaqwa kepada Allah baik di masjid maunpun di pasara atau di kantor atau di pabrik atau di sekolah atau di tempat kerja kita. Jika kita melakukan keburukan, maka menyesallah dah niatlah untuk tidak mengulangi serta lakukan kebaikan semoga kebaikan tersebut bisa menghapus kesalahan yang kita lakukan.

Sydney, 4 April 2015

By admin