Bebrapa malam yang lalu, setelah sholat magrib di Masjid Al Hijrah Tempe, salah seorang jamaah asal irak menggandeng tangan saya. “Brother, coba ulangi ayat bla bla bla”, katanya. Pada akhir ayat beliau mengatakan,”Brother anda tadi mengatakan dhoolimun,bukan jaahiluun”. Saya baru sadar kalau saya tadi telah salah membaca satu kata pada satu ayat dari surat Al Baqoroh. Saya tanyakan kepadanya,”kenapa anda tidak membetulkan saat tadi saya salah membaca?”. Katanya,”Saya khawatir merusak konsentrasi anda sehingga sholat menjadi kurang nyaman. Juga dengan mengingatkan seperti ini, anda semakin ingat akan kesalahan anda sehingga tidak akan mengulangi di masa akan datang”. Katanya lagi,”Anda bacaannya tadi seperti Minsyawi, saya suka”.

Subhanallah, sungguh beradab sekali cara beliau. Caranya sungguh mempesona, mengajak berduaan, mengingatkan yang salah, dan memuji apa yang baik. Menjadikan yang diingatkan senang dan tidak benci dengan nasehatnya. Imam Syafii’ pernah bersyair:

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri.
Dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian.

Karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis
pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya.

Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku
maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti
(Diwaan Imam Syafi’i).

Saudaraku, marilah kita beradab dalam menyampaikan nasehat. Inilah adab Islami.

Sydney, 5 April 2015

By admin